UNIVERSAL BLOG

IT’S FREE FOR ALL

Pengaruh Krisis global dan dampak pada ekonomi

Krisis ekonomi global yang merontokkan lembaga penjamin keuangan raksasa di Amerika Serikat berimbas pada ekonomi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Karena tidak ada negara di dunia yang dapat mengisolasi negaranya dari dampak global.

Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil menyatakan persoalan krisis ekonomi di Amerika Serikat juga berdampak pada ekonomi Indonesia. Namun, pengaruh krisis di Amerika Serikat itu tidak berpengaruh pada ekonomi Indonesia secara signifikan.

Sofyan Djalil menilai kondisi krisis ekonomi pada tahun 1998 yang lalu berbeda dengan krisis tahun 2008 ini. Karena pada tahun 1998 yang lalu kondisi perbankan dan ekonomi makro Indonesia lemah, sedangkan tahun 2008 ini perbankan dan ekonomi makro Indonesia cukup kuat.

SUMBER: KOMPAS TV.COM

February 14, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Apa Penyebab dan Pengaruh Global Warming??

Empat Ribu Pulau Tenggelam
Perubahan pola cuaca yang terjadi belakangan telah mengakibatkan banyak hal. Hal itu tidak hanya memengaruhi pertanian yang bergantung pada musim, tapi juga menimbulkan berbagai jenis penyakit. Bagaimana itu bisa terjadi?


Perubahan cuaca tersebut hanya satu contoh dampak yang dilahirkan perubahan iklim. Perubahan iklim global tidak hanya terjadi di Indonesia, namun hampir di semua belahan bumi. Tetapi, perubahan iklim itu juga disebabkan hal lain, yaitu pemanasan global (global warming).

Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan. Penyebabnya, pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Pembakaran tersebut melepas karbondioksida (CO2), gas metan (CH4), nitrous oksida (N2O), hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons (PFCs ), dan sulphur hexafluoride (SF6) di atmosfer yang dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK).

GRK dapat dihasilkan baik secara alamiah maupun kegiatan manusia. Namun, sebagian besar yang menyebabkan perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan ke angkasa sebagai hasil sampingan dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu dimulai ketika manusia menemukan teknologi industri pada abad ke-18. Saat itu, banyak industri berat yang menggunakan bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas, dan batu bara.

Aktivitas lain yang menghasilkan GRK adalah kegiatan perindustrian, penyediaan energi listrik, transportasi, dan hal lain yang bersifat membakar suatu bahan. Peristiwa alam juga bisa menghasilkan GRK. Misalnya, letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran hutan, dan peternakan. Kita bernapas pun mengeluarkan GRK.

Dampak pemanasan global diprediksi bisa mengancam kehidupan manusia. Bagaimana itu bisa terjadi? Laporan Badan Panel PBB Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) menyebutkan, rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat Celsius (59 derajat Fahrenheit). Dalam kurun waktu seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur itu meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit).

Para ilmuwan memperkirakan, keadaan akan lebih panas pada 2100 yang mencapai 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit). Kenaikan temperatur tersebut akan mencairkan es di kutub dan menghangatkan lautan. Akibatnya, volume lautan meningkat dan permukaannya naik sekitar 9-100 sentimeter (4-40 inci). Banjir akan timbul di daerah pantai dan mungkin menenggelamkan pulau-pulau.

Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan lebih tinggi, tetapi tanah juga lebih cepat kering. Kekeringan tanah tersebut akan merusak tanaman, bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Potensi kerusakan yang ditimbulkan pemanasan global itu sangat besar. Karena itu, para ilmuwan menyerukan perlunya kerja sama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah tersebut.

Bagaimana dampak yang dirasakan Indonesia? Tidak dapat dimungkiri, kebijakan pemerintah mengimpor beras pada akhir 2006 dan awal 2007 ini adalah sebagai salah satu akibat dari tidak menentunya cuaca akibat pemanasan global. Hal itu diakui Menteri Pertanian Anton Apriantono. “Mau bagaimana lagi. Kita kan tidak bisa memprediksi kapan datangnya hujan,” ungkap Anton kepada Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sri Woro B. Harijanto mengungkapkan, sebenarnya Indonesia telah merasakan efek global warming dalam tiga tahun terakhir. Dia mencontohkan terlambatnya musim penghujan yang seharusnya sudah turun pada Oktober lalu. Namun, hingga Desember, hujan tak kunjung datang. Keterlambatan itu juga disertai dengan pendeknya periode hujan, namun intensitasnya tinggi. “Akibatnya, kemarin banjir melanda Jakarta dan sekitarnya,” ujar Woro.

Anomali itu, lanjut Woro, banyak pihak merasakan dampak negatifnya. “Terutama mereka yang mata pencahariannya bergantung pada cuaca, seperti petani dan nelayan,” jelasnya.

Dia menambahkan, khusus untuk Indonesia, fenomena yang terjadi saat ini lebih disebabkan pada rumitnya posisi geografis. Pengaruh itu terbagi atas pengaruh global dan pengaruh lokal. Pengaruh global disebabkan posisi Indonesia terletak di sekitar Samudera Pasifik dan Lautan Hindia.

Sementara itu, pengaruh lokal disebabkan topografi Indonesia. Letak Indonesia pada garis ekuator juga membuat sirkulasi khas yang memengaruhi cuaca. “Maka, kita harus hati-hati ketika berbicara tentang cuaca atau musim,” bebernya. Meski demikian, sesuai dengan tugasnya, BMG selalu melansir informasi yang terkait dengan cuaca tersebut untuk kepentingan maritim ataupun publik.

Pemanasan global akibat ulah manusia juga diakui Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar. “Terpuruknya dunia ini akibat ulah manusia,” ujar Rachmat. Karena itu, manusia juga harus mengobatinya. “Manusia harus berusaha mengatasinya,” tambahnya.

Dulu, kata suami Erna Witoelar itu, isu perubahan iklim belum ditanggapi serius oleh manusia. “Dulu hanya dianggap biasa saja. Padahal, ini berbeda dengan gempa misalnya,” katanya.

Dampak dari perubahan iklim sangat membahayakan kehidupan. Bahkan, menurut Rahmat, ancaman yang ditimbulkan lebih berbahaya daripada terorisme. Sebab, dampaknya akan menyebabkan kerusakan fatal di bumi pada beberapa dekade ke depan. “Bukan (ancaman) global terrorism tidak penting, tapi ini (climate change) lebih penting,” tukasnya.

Salah satu yang dimaksud dengan kerusakan fatal itu adalah ancaman bagi keanekaragaman hayati. Pasalnya, setiap spesies harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Jika tidak, diperkirakan satu juta spesies akan punah.

Selain itu, di antara 17.500 pulau di Indonesia, sekitar 4.000 pulau akan tenggelam karena naiknya permukaan air laut ke daratan. Mengatasinya memang tidak mudah. Sebab, itu juga bergantung pada subjektivitas masing-masing negara dalam menyikapi perubahan iklim. “Tidak mudah karena perbedaan kepentingan antara negara maju dan negara berkembang. Mungkin saja Amerika bilang nggak apa-apa. Tetapi kita?” jelas mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut.

Sumber: http://www.nusaku.com

February 14, 2009 Posted by | PENGETAHUAN | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.